school from home

setelah pemberitahuan adanya virus covid-19 novel corona di jakarta, indonesia. akhirnya sekolah dihentikan kegiatan belajarnya untuk kemudian belajar dari rumah, study at home, school from home.

kerepotan langsung terasa di hari pertama,

rafaro dibuatkan account google baru, di dalam family link app. setelah account terbuat, maka dikirimkanlah tugas nya dengan email barunya. eh ternyata karena account baru, google langsung men-disable account rafaro, butuh validasi ulang via account ayah. dan email yang dikirm ke gurunya terblokir.

paniklah bundanya karena tenggat waktunya sebelum jam 9.

setelah coba divalidasi, dan coba kirim email, ternyata masuk spam folder. jadi terpaksa infoin gurunya untuk check ke spam folder.

<br/> Photo by Tirachard Kumtanom from Pexels

kehebohan berikutnya adalah<br/> aktifitas alana harus difoto dan kemudian digabung dalam bentuk kolase untuk kemudian di whatsapp ke gurunya.<br/> bunda heboh karena ga tau cara bikinnya. akhirnya dibikinin dari tempat client.

sementara kasusnya denny<br/> adalah google docs yang di-share gurunya ada yang ga bisa diakses. dan google docs nya read only, padahal instruksinya untuk dikerjakan langsung di dokumennya.<br/> tapi sehabis itu menimbulkan perasalahan baru, yaitu isiannya yang sudah diisi denny jadinya muncul di temannya.


berbohong

berbohong adalah hal tersering yang sering terjadi. kali ini alana melakukannya?

yaitu ketika ditanya kenapa rotinya cepat habis, dijawab bahwa rotinya beneran dimakan. padahal pada kenyataannya sisa rotinya diumpel-umpel dengan tissue lalu diselipkan ke dalam tas tenteng.

dan beberapa hari lalu adalah kedua kalinya. entah apakah itu satu rentetan, apa rentetan yg terpisah.berbohong adalah hal tersering yang sering terjadi. kali ini alana melakukanny?


tiba-tiba gede

tiba-tiba anak-anak ini koq udah gede aja... denny sekarang tingginya sudah hampir sama dengan ayahnya.

baju ayahnya sering dipinjam. sepatu ayahnya, belum juga sempat pakai, udah duluan dipakai sama dia


pulang naik bus

karena pak nisam memutuskan untuk ga balik lagi dari kampung, lalu denny harus pulang dengan bus.

jadi setelah cari-cari info lagi. ternyata ada rute bus baru yang justru dari halte yang dekat rumah dan langsung ke arah halte dekat sekolah.

waktu awal tahu ajaran, sudah ngajak denny untuk menjajal rute bus dia. lebih muter-muter. nah sekarang lebih ringkas. karena ada satu kendraan umum yang memang lumayan baru melintas dekat rumah. yaitu kwk jaklingko. kwk ini tujuan akhirnya memang halte busway dekat rumah.

jaklingko pun masih 0 rupiah, selama punya kartu jaklingko walaupun tak ada saldo, masih dilayani.

awal januari lalu, akhirnya merupakan kali pertama denny pulang sendiri denngan menggunakan angkutan umum.


menjajal LRT

berkesempatan menjajal LRT kelapa gading, ngajak nenek sekalian, karena habis pulang berenang.

LRT yang saat ini memang hanya dari kelapa gading ke rawamangun, tepatnya dari pegangsaan dua ke velodrome. masih belum tersambung kemana-mana lagi secara langsung.

rute LRT ini berpotongan dengan dua rute bus transjakarta, dari arah pulogadung ke arah pusat.

naik ke atas lumayan tinggi, karena ngajak nenek bidan, nanya ke satpamnya apa boleh naik pakai lift. dan diijinkan.<br/> naik ke lantai 2 tempat pembelian loket, wuih.. sepi. padahal hari minggu sekitar jam 11. mungkin kalau lebih pagi akan terasa ramainya.

sekilas terlihat mirip dengan stasiun MRT. bentuk loket, dan juga adanya mesin pembelian karcis. kita lalu menghampiri salah satu mesin, lalu disamper oleh petugas, nanya mau ke tujuan apa. jawabnya sih hanya mau coba jalan jalan aja. lalu petugas itu memilihkan tujuan akhir: velodrome.

tiket perjalanannya flat 5000 rupiah. namun karena beli karcis one trip, dibebani biaya jaminan 15.000 rupiah. satu mesin hanya bisa mengeluarkan 4 karcis pertransaksi. karena kita ber-enam, belinya dalam dua batch.

setelah dapat karcisnya, masing masing melakukan tap-in sendiri di electronic rolling gatenya. dan ga berapa lama, keretanya datang.

Naik LRT

ketika naik, bangku penuh, lalu petugasnya meminta orang yang duduk di kursi prioritas untuk memberi duduk buat nenek bidan.

di dalam LRT

nggak terasa perjalanan sudah sampai di stasiun akhir, velodrome, sekitar 10 menit saja perjalanannya. celingak-celinguk, ternyata pintu velodrome dekat sekali dengan pintu keluar stasiun.

akhirnya foto-foto sebentar di depan velodrome, lalu kembali lagi ke stasiun untuk balik ke boulevard utara, tempat berangkat tadi.

sampai di stasiun, di lantai 2, langsung menuju mesin, untuk meminta refund tiket berangkat tadi.<Br/> percobaan pertama, ternyata mesinnya kehabisan uang cash, sehingga keluar berupa strook, untuk kemudian dibawa ke loket. nah, kalo strook nya habis juga gimana? :D

pindah ke mesin sebelahnya, sukses.<br/> sekilas memang ada banyak mesin tiket, namun yang beroperasi dan berfungsi paling cuma 1 atau 2 mesin.

nah sekalian beli tiket di mesin, tapi sebagian saja. <br/>kali ini, kita cuma beli sebagian tiket, karena sisanya pakai kartu bank. e-money, flazz, dan jaklingko. <br/> kalau mau top-up atau beli baru bisa langsung di gerai yang tersedia.

btw, ga tau juga apakah LRT sudah menyediakan tiket multitrip, mengingat MRT saja baru bulan ini mengeluarkan tiket multitripnya. dan juga ga tau apakah penumpang boleh keluar di stasiun yang sama dengan stasiun keberangkatan menggunakan sekali tap-in.